Sayyidina Ali RA pernah memberikan nasihat perihal bagaimana mendidik anak keturunan kita: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Karena, mereka hidup bukan di zamanmu.”
Zaman memang terus berubah. Cara hidup manusia di masa lalu pasti berbeda dengan cara hidup manusia di masa kini. Begitu pula, cara hidup manusia di masa depan sudah tentu akan berbeda dengan cara hidup manusia di masa sekarang.
Dulu, kakek atau buyut kita mungkin hanya mengenal sedikit jenis profesi, seperti petani, pedagang, nelayan, atau guru. Namun, seiring perkembangan zaman, makin banyak profesi baru yang muncul, seperti: content creator, youtuber/ podcaster, digital strategist, data scientist, dan lain sebagainya.
Dulu profesi-profesi baru ini mungkin tak pernah terbayangkan oleh orangtua kita sebelumnya. Maka, benar sekali perkataan Sayyidina Ali. Cara mendidik anak kita harus senantiasa menyesuaikan dengan kondisi zaman yang melingkupinya.
Generasi Strawberry
Belakangan ini, muncul istilah generasi strawberry untuk menggambarkan generasi anak-anak muda masa kini. Istilah generasi strawberry awalnya dipakai di Taiwan untuk penyebutan generasi yang lahir setelah tahun 1980-an.
Sebutan strawberry ini mengacu pada sifat buah yang memiliki tampilan cantik, menarik, namun mudah rusak. Analogi strawberry memberi gambaran karakter generasi muda yang memiliki kreativitas tinggi, namun sangat rentan terhadap tekanan sosial dan enggan bekerja keras untuk mengejar keinginannya. Ide-idenya cemerlang, namun mudah galau dan mudah stres.
Pada akhirnya sebutan generasi strawberry juga dinisbatkan kepada generasi yang lahir lebih belakangan, tapi juga memiliki karakter mudah berputus asa seperti di atas (tak terbatas hanya pada generasi 1980-an).
Generasi strawberry ini terbentuk bukan tanpa sebab. Penyebabnya tak lain karena pola asuh yang salah dari orang tua. Sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ :
كل مولود يولدعلى الفترة, فأبواه يهودانه او يمجسانه او ينصرانه
Artinya: Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani (HR Bukhari)
Seringkali orang tua menerapkan pola pendidikan yang salah kepada anaknya. Seperti memanjakan anak, menebus waktu kebersamaan dengan menuruti semua keinginannya, atau kurang memperhatikan pola pendidikan untuk melatih kemandirian anak.
Tapi, walaupun arti utama kata أبواه pada hadits di atas adalah kedua orang tua, kata ‘abawaahu’ tadi juga bisa bermakna pemerintah (kurikulum pendidikan) atau lingkungan pergaulan (tetangga di rumah). Alhasil, kita tak bisa mengabaikan peran keluarga besar, lingkungan pergaulan rumah/ tetangga, serta kondisi lingkungan (kebiasaan dan budaya, baik di dunia nyata maupun dunia maya/ digital) dalam membentuk karakter anak.
Menuju Generasi Umat Terbaik
Dari banyak faktor yang mempengaruhi pola pembentukan karakter anak tadi, Al-Qur’an memberi panduan kepada kita bagaimana mendidik anak dan mendidik generasi.
Yakni dengan mempertahankan kondisi fitrah kepada diri setiap anak yang dilahirkan (sebagaimana disebutkan pada hadits di atas) dengan berpedoman pada tuntunan agama. Sebagaimana perintah Allah ﷻ dalam Al Quran:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.“ (QS Ar-Rum: ayat 30)
Ketika manusia mengabaikan panduan agama dalam kehidupannya, maka sudah tentu manusia akan keluar dari fitrahnya. Akibatnya akan terjadi kerusakan di tengah masyarakat. Misalnya saja, merebaknya LGBT (Lesbian Gay Biseksual & Transgender) yang menyalahi fitrah manusia, menyebabkan merebaknya wabah HIV/AIDS yang mematikan. Dan masih banyak contoh penyimpangan-penyimpangan lainnya.
Manusia dilahirkan memiliki beberapa potensi naluri. Yakni gharizah tadayyun atau naluri pengkultusan dan pemujaan terhadap Zat Yang Maha Tinggi (Allah ﷻ), gharizah nau’ atau naluri untuk melestarikan keturunan (menyukai lawan jenis), serta gharizah baqo’ atau naluri mempertahankan eksistensi diri dan kepemimpinan
Untuk menumbuhkan potensi-potensi tersebut pada anak, maka kita perlu memahami cara-cara penyalurannya dengan cara yang benar, bukan justru menghambat dan mengabaikan naluri-naluri tadi. Atau sebaliknya mengumbarnya sesuka hati menuruti keinginan dan hawa nafsu semata.
Semua potensi naluri tadi harus disalurkan sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan dan As Sunnah. Naluri tadayyun disalurkan dengan penyembahan yang lurus hanya kepada Allah ﷻ semata. Sejak anak-anak, orang tua harus menunjukkan, mengenalkan dan mengingatkan kebesaran Allah ﷻ dalam setiap momen kehidupan. Sehingga mereka terbiasa untuk mengarahkan pengkultusan, penyembahannya, semata kepada Allah ﷻ saja
Naluri Nau’ disalurkan dengan menikah (berkeluarga) sesuai tuntunan agama. Untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih kepada anak, sejak kecil orang tua harus menunjukkan curahan kasih sayangnya kepada anak. Seperti sering menyentuh dan memeluknya, menyatakan rasa sayang secara verbal maupun menunjukkannya dengan sikap sayang.
Adapun naluri baqo’ disalurkan dengan melaksanakan perintah Allah ﷻ untuk berdakwah, yakni menyeru kepada masyarakat di sekitar kita untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemunkaran (kerusakan). Dapat dipupuk ketika orang tua memberikan apresiasi yang cukup kepada anak-anak saat mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang baik (yang diperintahkan oleh Agama).
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: ayat 110).
Dengan cara-cara tadi di atas, semoga anak-anak kita yang awalnya merupakan bagian dari generasi strawberry, bisa tumbuh menjadi generasi Khoiru Ummah. Yakni generasi umat terbaik yang akan memimpin peradaban mulia di antara umat manusia lainnya. Insyaa Allah. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.
*Disarikan dari materi parenting Sekolah Tahfizh Plus Tingkat Sekolah Dasar (SD) Khoiru Ummah Bandung yang disampaikan oleh Ustadzah Hj. Lia Fakhriah, SP pada bulan Desember 2022

