“Ustadz, tolong doakan anak saya menjadi anak yang saleh.” kata-kata itu meluncur dalam sebuah pembicaraan antara dua orang berbeda profesi. Diutarakan oleh seorang dokter kepada rekan bicaranya, seorang Ustadz atau guru agama.
Sang Ustadz tak langsung mengiyakan permintaan rekannya. Alih-alih dia justru mengajukan permintaan kepada temannya itu. “Doakan anak saya menjadi dokter yang hebat,” kata Ustadz.
Lalu, Dokter menjawab. “Tetapi, untuk menjadi seorang dokter yang hebat, diperlukan usaha dan biaya yang besar.” Sang Dokter menjelaskan lebih rinci, biaya sekolah/ kuliah di fakultas kedokteran yang begitu mahal.
Orang tua sudah pasti musti menyediakan dukungan finansial, buku, alat, dan biaya praktik yang tak sedikit. Belum lagi, diperlukan kesungguhan dan keseriusan belajar yang muncul dari kesadaran sang anak itu sendiri.
Singkatnya, untuk mendidik anak kita menjadi seorang dokter yang baik, kata Pak Dokter, butuh perjuangan finansial, waktu dan kesungguhan. Sang Anak harus memiliki keinginan keras untuk menjadi dokter, menuntut ilmu pada sekolah kedokteran yang baik, dan ditunjang juga dengan fasilitas belajar yang memadai.
“Nah, seperti itu pula bila kita menginginkan anak kita menjadi anak yang saleh,” kata Ustadz seketika. Untuk mencetak seorang dokter yang handal saja, diperlukan kerja keras, perjuangan finansial, dan waktu yang panjang. Apalagi bila kita menginginkan anak kita menjadi orang saleh, yang buahnya pasti juga akan dirasakan di akhirat nanti, Pak Ustadz menjelaskan.
Agar anak kita menjadi orang saleh memang tak sesederhana meminta doa terbaik kepada Ustadz atau seorang Kyai. Selain mengandalkan kekuatan doa, orang tua juga harus menanamkan nilai-nilai kesalehan (nilai-nilai Islam) kepada anaknya semenjak dini. Membiasakan dan melestarikan amalan-amalan kesalehan itu terhadap mereka di setiap waktu. Terus-menerus tak kenal lelah, dari kecil hingga mereka beranjak besar dan dewasa.
Berarti, nilai-nilai kesalehan itu musti sudah tertanam terlebih dulu pada diri setiap orang tua yang menginginkan kesalehan bagi anaknya. Bagaimana mungkin orang tua bisa membiasakan dan menerapkan nilai kesalehan terhadap anak, sementara dirinya sendiri masih asing dengan nilai-nilai kebaikan itu?
Hal itu sejalan dengan apa yang dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi ﷺ yang berbunyi:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Semua anak dilahirkan dalam kondisi fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya menjadi seorang yahudi, majusi, atau nasrani.”
Dalam hadits ini, peran orang tua begitu besar dalam mencetak anaknya menjadi seperti apa saat besar kelak. Kendati ada pula kasus-kasus pengecualian dalam hal ini, seperti Nabi Ibrahim AS yang berbeda 180 derajat dari orang tuanya yang penyembah berhala. Atau kisah Kan’an yang tidak mau mengimani ajaran tauhid (Islam) ayahnya, Nabi Nuh AS.
Setidaknya, peluang untuk mendapatkan anak yang saleh akan lebih besar, bila orang tuanya menjadi saleh terlebih dulu. Orang tua yang saleh sudah pasti menginginkan anaknya saleh pula seperti dirinya, atau bahkan lebih saleh darinya.
Rumusan itu pun secara tersirat dinyatakan dalam kisah yang diabadikan dalam Al Qur’an Surat (QS) Al Kahfi [19]: ayat 82:
وَاَمَّا الۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيۡنِ يَتِيۡمَيۡنِ فِى الۡمَدِيۡنَةِ وَكَانَ تَحۡتَهٗ كَنۡزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوۡهُمَا صَالِحًـا ۚ فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنۡ يَّبۡلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنۡزَهُمَا ۖ رَحۡمَةً مِّنۡ رَّبِّك
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu yang di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang sholih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu…”
Dalam peristiwa ini, Nabi Musa dikisahkan merasa keheranan dengan perbuatan Nabi Khidir di suatu negeri, di mana ia menegakkan kembali dinding sebuah rumah yang roboh. Sementara, penduduk negeri itu tak peduli dengan perbuatan Nabi Khidir.
Ternyata rumah yang sudah roboh itu milik dua anak yatim, yang orang tuanya adalah orang saleh dan ahli ibadah. Di bawah dinding rumah itu tersimpan harta peninggalan yang dengan izin Allah kemudian ditemukan oleh kedua anak yatim itu saat mereka dewasa.
Itu adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap anak keturunan dari orang yang saleh. Berkat syafaat dan kesalehan orang itu, maka anak keturunannya dijaga oleh Allah ﷻ. Bahkan menurut tafsir Ibnu Katsir, kedua anak yatim ini sebenarnya merupakan keturunan ketujuh dari orang saleh yang dimaksud.
Masya Allah, luar biasa bukan? Berkah dari kesalehan seseorang ternyata tak hanya dirasakan oleh dia sendiri, melainkan bisa dirasakan pula oleh anak cucunya.
Tak hanya beroleh balasannya di akhirat, di dunia pun ia dan keturunanannya sudah mendapat kemuliaan dari Allah ﷻ. “Robbana hablana minash Shoolihiin.” Ya Allah, karuniakanlah kepada kami anak-anak keturunan yang saleh. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.
*Disarikan dari materi parenting di Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Bandung pada Bulan Januari 2022, oleh Ustadz Dr Agus M Handaka, SPi, MT

