Sudah menjadi tabiat manusia untuk memiliki kecenderungan kepada harta dan kesenangan dunia. Mengenai hal ini, Allah ﷻ telah nyatakannya di dalam Al Qur’an.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 14)
Jadi, sudah merupakan fitrah manusia untuk senantiasa menginginkan harta yang banyak, pasangan istri yang cantik/ suami yang rupawan, rumah yang besar, tanah sawah atau kebun yang luas, kuda atau kendaraan yang mewah, dan seterusnya.
Bicara kemegahan dunia, boleh jadi, kita akan teringat dengan harta kekayaan milik Qarun, misalnya. Atau, pundi-pundi milik Kaisar Roma atau Raja Persia di masa-masa terbaik/ keemasan mereka.
Al-Qur’an pun mengabadikan kemewahan dan kemegahan harta milik Qarun, yang kunci-kunci perbendaharaannya saja demikian berat dan besar. Hingga untuk mengangkatnya saja, hanya dapat dilakukan oleh beberapa orang yang kuat. Bahkan sejumlah ulama menggambarkan bahwa lelaki-lelaki kuat tadi memiliki tenaga setara 10 – 40 tenaga lelaki biasa.
Tapi, apakah keberlimpahan harta tadi dapat mengantarkan manusia pada keselamatan? Ternyata tidak mesti. Bahkan harta Qarun justru menggelincirkannya menjadi orang yang zhalim. Sebagai mana diabadikan di dalam Al Qur’an Surat (QS) Al Qashash [28]: Ayat 76.
إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ
“Sesungguhnya Qarun termasuk Kaum Musa, tapi dia berlaku zhalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah Engkau terlalu bangga. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.‘”
Dalam QS Al Hadid [57]: ayat 20, bahkan secara jelas Allah mendeskripsikan kesenangan duniawi sebagai permainan yang melenakan dan kesenangan yang menipu.
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
Lagipula, belum tentu nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Qarun, Kaisar Romawi atau Raja Persia, melebihi nikmat yang Allah berikan kepada kita, umat Islam yang hidup belakangan. Pada masa Qarun misalnya, peradaban manusia belum menemukan teknologi-teknologi yang begitu memudahkan manusia.
Dulu, untuk mendapatkan udara yang sejuk dan nyaman, Qarun atau raja-raja harus dikipasi secara manual oleh asisten atau petugas kerajaan. Sementara kini, kita bisa merasakan udara sejuk langsung dari pendingin ruangan setiap saat.
Dulu pun, perjalanan ratusan kilometer harus ditempuh beberapa pekan atau beberapa bulan, dengan menaiki kuda atau binatang lain. Sementara saat ini, untuk menempuh jarak yang sama bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa jam saja, menggunakan mobil, kereta api atau pesawat terbang.
Belum lagi teknologi-teknologi lainnya yang sangat membantu dan memudahkan pekerjaan. Misalnya listrik, lampu penerangan, komputer atau smartphone beserta aplikasi-aplikasinya. Dengan segala kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada kita, sudah sepantasnya kita syukuri dengan menjalankan ketaatan terbaik kepada Allah dengan penuh kegembiraan.
Ketaatan kepada Allah itu sendiri merupakan nikmat yang besar dari Allah ﷻ. Dan dengan ketaatan itu pula, pastinya membawa manusia kepada keselamatan; baik keselamatan di dunia maupun di akhirat. Dan inilah kegembiraan sejati, ketika Allah menganugerahkan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan di surga-Nya, bagi orang-orang yang taat dan berbuat kebaikan di dunia.
ۖوَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (QS Al Baqarah [2]: ayat 25).
*Disarikan dari materi parenting Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Bandung, yang disampaikan oleh Ustadz Dr Agus M Handaka, SPi, MT

