Kemandirian adalah sikap mental yang harus dipupuk dan dilatih kepada anak semenjak dini. Kegagalan dan keterlambataan untuk menanamkan kemandirian pada anak, dikhawatirkan akan menyebabkan munculnya generasi yang lemah di belakang kita. Padahal Allah ﷻ sudah memperingatkan di dalam Al Qur’an Surat An Nisa ayat 9 (QS[4]:9) sebagai berikut:
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Dalam hal ini, Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah Bandung merancang serangkaian program pendidikan yang diharapkan dapat menanamkan dan memupuk kemandirian anak. Beberapa di antaranya adalah aktivitas pengisian daftar KHS (Kegiatan Harian Siswa) secara mandiri, mabit, outing, renang, panahan, memasak, serta kemah Al Qur’an tingkat nasional IQC (Indonesia Qur’an Camp).
Selain itu, setiap mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah Bandung, diberikan dengan metode talqiyyan fikriyyan, yakni dilakukan secara langsung (tatap muka) dengan memberi pemahaman melalui proses berfikir. Para guru selalu mengajarkan pemahaman kepada siswa sambil mengajak mereka mengamati fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga, ilmu itu menjadi sesuatu yang bersifat aplikatif, tak hanya menjadi pengetahuan semata. Maka, ilmu tak sekadar menjadi wawasan, namun bisa diterapkan dalam keseharian dan dapat mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Di rumah, orang tua pun diharapkan turut mendorong upaya-upaya melatih kemandirian anak. Yang harus ditanamkan dalam benak orang tua, bahwa memandirikan anak akan menguatkan naluri untuk mempertahankan dirinya (gharizah baqa’).
Di awal proses melatih kemandirian anak, orang tua sering merasa kasihan atau tak tega kepada anak. Namun, bila kemandirian anak tidak dipupuk, anak bisa tumbuh menjadi anak manja. Latihlah kemandirian anak sejak kecil, sepanjang proses itu tidak bertentangan dengan hukum dan membahayakan/ melukai dirinya sendiri.
Ajarkan anak-anak kita kemampuan dan keterampilan sederhana terlebih dulu. Seperti bagaimana memakai sandal, kaus kaki, mengenakan sepatu, memasang tali sepatu, mengenakan dan melepas jaket, dan lain-lain.
Perlu diingat, bahwa proses pembelajaran ini membutuhkan waktu. Jadi, orang tua harus sabar dan memberikan tenggang waktu hingga anak kita benar-benar mampu dan mahir menguasai keterampilan yang sedang dilatih.
Bila anak sudah bisa mengerjakannya, latih mereka keterampilan-keterampilan lain yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Berikan tanggung jawab dan amanah yang lebih sulit. Misalnya mencuci sepatu dan sandal, menyapu, mengepel, mencuci piring.

Untuk memudahkan anak-anak kita melaksanakan tanggung jawabnya, modifikasi alat-alat pendukung untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Misalnya menyediakan sapu dan pengepel bergagang pendek, atau menyediakan kursi agar anak bisa menjangkau kran air untuk mencuci piring.
Jangan lupa untuk mendampingi mereka hingga mereka mampu mengerjakan sendiri tugas-tugas tersebut. Berikan apresiasi kepada mereka, walaupun hasil akhirnya masih belum sempurna. Kemampuan mereka mengerjakan suatu tugas akan meningkat seiring waktu, insya Allah.
Demikian beberapa poin yang harus diperhatian untuk melatih kemandirian anak. Butuh proses, butuh waktu dan perhatian khusus. Namun, bila orang tua abai atau kurang memperhatikan hal ini, justru berakibat kurang baik bagi anak, maupun orang tua dan keluarganya kelak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh ulama dan sastrawan Melayu Raja Ali Haji dalam karya masyhurnya yang berjudul Gurindam Dua Belas:
“Apabila anak tiada dilatih
Jika besar bapaknya letih
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai.”
*Disarikan dari materi parenting Sekolah Tahfizh Plus Tingkat Sekolah Dasar (SD) Khoiru Ummah Bandung yang disampaikan oleh Ustadz Dr Agus M Handaka, SPi, MT pada bulan November 2022

