Suatu hari, Rasulullah ﷺ berada di masjid bersama para sahabatnya termasuk Abu Hurayrah RA, mereka baru saja membagi-bagikan kurma shodaqoh kepada yang berhak. Rasulullah ﷺ kemudian menggendong cucunya Hasan, di bahunya.
Namun, beliau ﷺ mendapati air liur Hasan menetes kepadanya. Ternyata Hasan tengah mengulum kurma shodaqoh tersebut. Nabi ﷺ langsung berkata kepada Hasan, “Hekh, hekh, hekh, buang Nak!”
Hasan tak kunjung mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Sehingga, Nabi menggerak-gerakkan pipi Hasan, dan menepuk-nepuk ringan rahang cucunya itu. Sampai akhirnya Nabi mengeluarkan kurma shodaqoh itu dari mulut Hasan, seraya berkata, “Tidakkah kamu tahu, kita keluarga Muhammad tidak boleh memakan shodaqoh.”
Peristiwa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahih Bukhari, Imam Muslim dalam Sahih Muslim, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya. Dari peristiwa ini dapat dipetik beberapa pelajaran bagaimana Rasulullah mendidik cucunya.
Yang pertama, Rasulullah ﷺ, membiasakan penerapan kebaikan terhadap Hasan sejak usia dini. Kendati usia Hasan saat itu belum baligh, namun Rasulullah tidak membiarkan Hasan melakukan kesalahan sejak ia masih kecil.
Pembiasaan kebaikan dan menghindari dari kesalahan dilakukan sejak dini, agar ketika anak menginjak usia mukallaf (usia untuk mulai mempertanggung jawabkan semua perbuatannya) ia telah terlatih untuk menjauhi perbuatan dosa dan telah terbiasa melaksanakan segala hal yang diperintahkan oleh syariat.
Sebagai seorang kakek, Rasulullah ﷺ tidak memanjakan cucunya dengan dalih-dalih pemaafan dan pembenaran saat cucunya berbuat salah. Seperti istilah yang biasa diucapkan oleh seorang Kakek: “Ah biarkanlah, kan masih kecil,” atau “Ah tidak mengapa, hanya sekali saja, tidak sering…”
Hal ini sekaligus mengajarkan konsistensi pendidikan di rumah antara Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, jangan sampai ada yang berkompromi dengan kesalahan. Kesalahan yang sering terjadi yakni apabila Ayah dan Ibu melarang, justru Kakek dan Nenek membolehkan. Sehingga, untuk mencoba mendapatkan apa yang diinginkan, sang Anak akan lari kepada Kakek dan Neneknya.
Pelajaran kedua, yakni tahapan dalam melarang anak. Ketika mengetahui Hasan memakan kurma shodaqoh, Rasulullah langsung menegur dan memerintahkannya untuk mengeluarkan kurma itu. “Hekh, hekh, hekh, buang, Nak!”
Namun, karena Hasan tak juga mengeluarkan kurma itu, maka Rasulullah menggerak-gerakkan pipi Hasan, bahkan menepuk-nepuk rahangnya supaya kurmanya dikeluarkan.
Namun, karena Hasan tidak mengeluarkan kurma itu, akhirnya Rasulullah ﷺ memaksanya dengan mengambil kurma itu langsung dari mulut Hasan.
Pelajaran ketiga, Rasulullah ﷺ menjelaskan alasan kenapa kita melakukan perbuatan tertentu atau menghindari sesuatu. Dalam hal ini, Rasulullah memberi alasan kenapa Hasan tidak boleh memakan kurma itu. “Tidakkah kamu tahu, kita keluarga Muhammad tidak boleh memakan shodaqoh.”
Sentuhan pendidikan Rasulullah ﷺ kepada cucu-cucunya terbukti menjadikan Hasan dan Husain menjadi orang-orang yang berahlak mulia.
“Al-Hasan dan Al-Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda ahlul jannah.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari Abu Sa’id Al-Khudri)
*Disarikan dari materi parenting Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Bandung, yang disampaikan oleh Ustadz Dr Agus M Handaka, SPi, MT, pada bulan Oktober 2022
*Foto Ilustrasi oleh Timur Weber @ Pexels

