Ustadz Amir mengingatkan untuk melanjutkan amalan infak & sedekah - STP SD Khoiru Ummah sekolah tahfidz unggulan sekolah islam tahfizh terbaik bagus penghafal Al Quran di Bandung

Perkuat Ukhuwah di Saat Wabah

Ramadhan berlalu, bulan Syawal menggulirkan semangat baru untuk memulai rutinitas dan aktivitas belajar mengajar. Pada Rabu pagi, 3 Juni 2020, Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah se-Indonesia mengadakan acara Liqo Syawal Online secara serempak, yang  digelar melalui aplikasi Zoom dan YouTube Livestream, dan dihadiri oleh lebih dari 700 peserta.

Dalam acara istimewa itu, Ustadz Amiruddin Sujadi MA,  memberikan tausiyah yang sangat relevan di tengah kondisi pandemi Covid-19, yakni mengambil tema ‘Memperkuat Ukhuwah di Masa Wabah’.

Menurut Ustadz Amiruddin, di masa-masa sulit seperti ini umat Islam harus senantiasa memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana Rasulullah ﷺ gambarkan dalam salah satu haditsnya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Artinya, sesama muslim dan mukmin selayaknya selalu mengedepankan rasa cinta, kasih-mengasihi, dan menyayangi satu sama lain. Sehingga apabila ada yang merasakan sakit, maka mukmin yang lain akan ikut merasakan sakit bahkan menggigil karena merasa demam.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah ﷺ  juga menggambarkan persaudaraan sesama mu’min bagaikan seperti sebuah bangunan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim]

Lebih lanjut, Ustadz Amir menjelaskan bahwa ukhuwah merupakan buah manis dari iman dan takwa, yang harus selalu dipupuk dengan ilmu dan amal terbaik.

Maka, untuk memperkuat ukhuwah itu, seorang muslim harus memilih teman yang juga seorang mukmin agar bisa saling memotivasi untuk mencari ilmu dan mengamalkannya. Adapun ciri-ciri seseorang mukmin dan taqwa, kata Ustadz Amir, bisa dilihat dari kebiasaannya:

1. Rajin Shalat
2. Rajin berinfak dan berbagi
3. Rajin Membaca Al Qur’an
4. Menahan amarah
5. Suka memaafkan

Ciri-ciri di atas dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di Al Qur’an Surat Al Baqarah 1-5

(5) الٓمٓ (1) ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ (3) وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

1. Alif Lam Mim
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat
5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

juga di Surat Ali Imran Ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Untuk ciri ke 2 (rajin berinfak dan bersedekah), Ustadz Amir menekankan agar program infak dan sedekah yang biasa dilaksanakan pada bulan terbaik yakni bulan Ramadhan (Ramadhan Bebagi). Dan kemudian juga diteruskan di bulan-bulan lainnya. Ustadz Amir bahkan meminta agar kita meneladani kedermawanan Ummul Mukminin (Ibunya Umat Islam – Istri Nabi) Sayidatina A’isyah رضى الله عنها.

Setelah Rasulullah ﷺ  wafat, Sayidatina A’isyah lebih sering menyibukkan diri untuk berpuasa daripada tidak berpuasa. A’isyah yang selalu mendapat santunan dari Khalifah, senantiasa membagi-bagikan santunan itu kepada orang-orang miskin hingga ia sendiri tak mendapat bagian yang tersisa. Sampai-sampai pembantunya kerap mengingatkan agar ia menyisakan sedikit saja untuk bekal berbuka.

Keteladanan ini selaras dengan apa yang diperintahkan oleh Allah di Al Qur’an Surat Al Munafiqun ayat 10:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

Semoga Allah senantiasa memasukkan kita kepada golongan orang-orang yang beriman dan bertakwa. Aamiin yaa Mujibas saa’iliin.

Galeri Liqo Syawal Online Sekolah Tahfidz Plus Tingkat Dasar (STP SD) Khoiru Ummah Bandung:

# Liqo Syawal

# Syawal

# STP Khoiru Ummah Bandung

# Sekolah Tahfizh Terbaik

# Sekolah Tahfizh Unggulan

# Sekolah Islam Terbaik

# Khoiru Ummah Bandung

# Tahfizh Al Quran Bandung

# Sekolah Tahfizh Bandung