agar anak semangat shalat dan muroja'ah - STP SD Khoiru Ummah sekolah tahfidz unggulan sekolah islam tahfizh terbaik bagus penghafal Al Quran di Bandung

Agar Anak Semangat Shalat dan Muroja’ah

Ketika anak-anak telah kita bekali dengan cukup ilmu agama Islam, tapi ilmu tersebut belum mampu menggerakkan kesadaran mereka untuk beramal saleh secara mandiri; apa kira-kira yang salah?

Ternyata, sebuah pengetahuan/ ilmu memang belum tentu bisa menggerakkan manusia untuk mampu beramal, tanpa ada kehadiran ‘rasa’ di dalamnya. Maka, mengenalkan ‘rasa’ adalah salah satu bagian dari upaya orang tua untuk membimbing ananda untuk melengkapi pengetahuannya sehingga bisa mewujud menjadi sebuah amal terbaik.

Untuk menjalani kehidupan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan manusia tiga hal, yakni: fisik, naluri dan akal. Naluri dan fisik adalah dua hal yang diberikan oleh Allah agar manusia bisa eksis sampai akhir zaman.

Contohnya, naluri ‘Nau’ (kasih sayang) yang diberikan Allah agar manusia dapat melakukan regenerasi. Naluri ‘nau’ menjaga kelestarian jenis manusia sehingga tak akan punah hingga akhir zaman nanti. Naluri ini juga diberikan kepada mahluk hidup lain, seperti binatang.

Adapun akal adalah karunia lain dari Allah SWT yang membedakan manusia dengan binatang. Dengan akal ini, manusia memiliki kemampuan untuk memahami sesuatu, menentukan, mengaitkan, mengklasifikasikan, atau menghukumi sesuatu.

Jika kita melihat benda seperti ini: 🖊 maka kita akan mengatakan bahwa itu adalah ‘pulpen’. Karena sebelumnya kita pernah mendapatkan informasi/ ilmu/ ma’lumat bahwa benda seperti dinamakan ‘pulpen’.

Apa itu Rasa?
Kita bisa mencoba mendefinisikan rasa dengan kata-kata sebagai berikut:
1. Tanggapan indra terhadap rangsangan saraf, seperti manis, pahit, asam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa.
2. Apa yang dialami oleh badan, seperti rasa pedih dan nyeri di perut akibat gejala sakit lambung.
3. Sifat rasa suatu benda, seperti manisnya gula, asinnya garam.
4. Tanggapan hati terhadap sesuatu (indra), seperti rasa sedih, bimbang, dan takut.
5. Pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar. Misalnya: rasa adil

(*sumber: kbbi.web.id/rasa)

Rasa dalam pembahasan kepribadian (syakhsiyyah) adalah muyul atau kecenderungan orang untuk beramal. Dalam realitas kehidupan, ilmu, pemikiran, pendapat tidak akan dapat diwujudkan menjadi amal, bila tak diikuti oleh rasa. Ilmu yang diterima oleh otak bagian kiri, ketika tidak diteruskan ke otak kanan, untuk menghadirkan rasa yang tepat, maka tidak akan terjadi suatu tindakan/ amal perbuatan.

Misalnya dalam aktivitas belajar. Walau seseorang sudah diajarkan bahwa belajar itu hukumnya wajib, namun bila rasa malas yang hadir lebih dominan, maka ia tak akan menggunakan pulpen untuk membuat catatan. Rasa malas itu akan memblok dia untuk beramal. Kendati sebelumnya ia sudah mengetahui fungsi pulpen dalam kegiatan belajar dan hukum dari belajar.

Lain halnya bila yang hadir adalah rasa semangat/ kesungguhan. Maka ia akan menggunakan pulpen tersebut untuk menulis dan membuat catatan. Rasa semangat ini yang akan mendorong ia untuk beramal.

Contoh lainnya, misalnya saat kita hendak mendirikan shalat. Sebelum shalat, akal kita akan memahami dulu untuk apa kita shalat? Kenapa shalat itu wajib dilaksanakan? Dan sebagainya. Jika pada pengetahuan-pengetahuan tadi tidak kita hadirkan ‘rasa’ yang tepat, maka tidak akan muncul sebuah amal.

Oleh karenanya, bila seorang anak masih sulit diajak untuk melaksanakan sholat, bisa jadi anak itu belum memiliki rasa yang tepat untuk disandingkan dengan pengetahuannya tentang shalat. Walhasil, walaupun anak itu sudah memiliki informasi awal atau ilmu tentang wajibnya shalat, namun pengetahuan itu belum sanggup menggerakkan anak itu untuk melaksanakan/ mengamalkan pengetahuannya itu.

Maka, yang harus dilakukan adalah mengecek informasi atau ilmu yang difahami oleh sang anak, juga rasa apa yang hadir saat menerima ilmu atau informasi: apakah sang anak mengetahui bahwa shalat itu perintah Allah? Apakah ia sudah mengetahui siapa Allah itu? Apakah ia sudah mengenal kebaikan Allah? Apakah dia telah mengetahui kenapa harus ta’at kepada Allah? Apakah dia sudah mengetahui ganjaran/ hadiah/ pahala terbaik dari Allah kepada dirinya bila melaksanakan shalat? Bagaimana perasaannya jika mendapat hadiah?

Upaya menghadirkan Rasa
Untuk menumbuhkan rasa tadi, kita bisa mengajak anak-anak untuk berdiskusi. Sebagai contoh, Bagaimana rasanya berhadapan dengan orang yang sangat baik kepada dirinya? Apakah anak sudah bisa merasakan Allah itu baik? Apakah yang ingin dilakukannya kepada Allah yang Maha Baik?

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, diharapkan akan memunculkan rasa syukur. Misalnya janji Allah untuk menambah ni’matnya bagi yang orang bersyukur.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.

Begitu pula petunjuk-Nya dalam sebuah hadits:

عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” تهادوا تحابوا

Artinya:
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda: “Hadiah-menghadiahilah kalian, (niscaya) kalian akan saling mencintai.”
(HR Bukhari)

Rasa cinta adalah sesuatu yang akan membuat kita, umat Islam, ringan bahkan rela untuk berkorban (dalam beramal). Selama ini Allah telah memberikan begitu banyak kepada kita. Bahkan kita tak akan bisa menghitung ni’mat yang telah diberikan. Oleh karenanya, sudah sepantasnya kita memberikan keta’atan kepada Allah. Maka lahirlah cinta antara kita sebagai makhluk dan Allah sebagai Khaliq.

Dalam keseharian, bisa kita terapkan kepada anak-anak agar mereka semangat untuk melaksanakan muroja’ah, misalnya. Hadirkan gambaran rasa senang terhadap muroja’ah sebagaimana rasa senang memainkan sesuatu permainan.

Jika anak senang maka mereka akan mengulang-ulang permainan tersebut. Kalau anak sudah cinta, maka mereka tidak mau terlewatkan sekejap pun dari yang mereka cintai. Demikian pula muroja’ah.

Muroja’ah dilaksanakan untuk menjaga agar mereka tetap senang. Maka, jika malas melakukan muroja’ah dan tak mengulang-ngulang hafalan, maka hafalan Al Qur’an mereka akan semakin menghilang. Ketika mereka kehilangan barang kesayangannya, apa yang mereka rasakan? Muncul perasaan sedih. Oleh karena itu hadirkan rasa sedih jika mereka kehilangan hafalan mereka.

Hadirkan pula informasi bahwa Al Qur’an yang mereka hafal akan menjadi penolong mereka di yaumil akhir (hari akhir). Jika di situasi yang genting ada yang menolong kita, rasa yang hadir adalah bahagia, lega. Jika mereka bisa bayangkan situasi dan rasa tersebut, semoga akan hadir selalu, semangat untuk menghafal Al Qur’an.

Sebagai orangtua kita juga perlu mengetahui tahapan untuk menghadirkan rasa dalam diri dan anak kita atau orang lain. Ada 5 (lima) tahapan agar kita dapat menghadirkan dan mengelola rasa dengan tepat, yakni:
1. Merasakan (Awareness)
2. Menamakan rasa (Naming)
3. Merasakan perasaan orang lain (Empati)
4. Menempatkan rasa pada tempatnya (Kontrol/ pengendalian)
5. Mencari jalan agar rasa yang tak tepat bisa menjadi rasa yang tepat (Solusi)

Contoh-contoh yang diutarakan di atas adalah contoh penerapan langkah 1-4. Adapun poin 5 baru diterapkan bila poin 1-4 sudah dijalankan. Misalnya, bagaimana agar hilang rasa malas dan bagaimana cara agar marah bisa disalurkan dengan benar. Oleh karenanya, hadirkanlah rasa yang tepat dalam diri kita, agar kita juga dapat melaksanakan amal yang tepat. Wallahu a’lamu bis shawab

*Disadur dari materi Kajian Bunda KU (Kajian orang tua Sekolah Tahfidz Plus Tingkat Dasar (STP SD) Bandung, asuhan Ustadzah Hj Lia Fakhriyah, SP.

# STP Khoiru Ummah Bandung

# Sekolah Tahfizh Terbaik

# Sekolah Tahfizh Unggulan

# Sekolah Islam Terbaik

# Khoiru Ummah Bandung

# Tahfizh Al Quran Bandung

# Sekolah Tahfizh Bandung