Ustadzah Ummu Khoir menjelaskan visi keluarga muslim - STP SD Khoiru Ummah sekolah tahfidz unggulan sekolah islam tahfizh terbaik bagus penghafal Al Quran di Bandung

Visi Surga Keluarga Mukmin

Kedudukan ayah dan bunda dalam pendidikan anak sangat vital dan tak dapat digantikan oleh pihak lain, termasuk oleh pihak sekolah. Namun, realita di lapangan, seringkali orang tua (baik ayah ataupun bunda) kurang menyadari peran penting mereka dalam mewarnai pembentukan pribadi dan karakter anak mereka.

Maka, dalam event parenting nasional yang diseleggarakan pada Selasa 6 Mei 2020, pakar pendidikan berbasis akidah Islam, Ustadzah Ir Hj Emmy Khairani, membekali orang tua murid dengan materi ‘Sinergi Terbaik Ayah dan Bunda dalam Mendidik Anak.’

Event parenting online tersebut diikuti oleh sekitar 390 orang tua murid sekolah tahfizh dari seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Tanah Bumbu, Medan Tembung, Binjai, Palembang, Liwa Lampung, Pekanbaru, Tebing Tinggi, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Malang, Sidoarjo, Jember, Berau, Balikpapan, Makassar, dan lain sebagainya.

Parenting saat itu membahas visi pendidikan keluarga muslim berdasarkan dalil yang digali dari sumber terbaik dan paling utama dalam Islam: Al Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ. Visi itu adalah visi yang harus menjadi visi pendidikan bagi keluarga muslim, bukan hanya sebatas visi sekolah.

Menurut Ustadzah Ir Hj Emmy Khairani yang juga akrab disapa Ummu Khair itu, harus dipahami dan disepakati oleh Ayah dan Bunda. Visi tersebut akan timpang dan sulit duwujudkan bila hanya dipahami dan dijalankan oleh satu pihak saja, misalnya oleh pihak suami saja atau istri saja.

Di antara ayat-ayat Al Qur’an yang menjadi rambu dalam pendidikan anak, dijelaskan Ummu Khoir, adalah Surat Ar Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Dari ayat tersebut, Ustadzah Ummu Khoir, dalam membangun sebuah keluarga harus dilandasi dengan rasa kasih sayang sehingga akan membawa kehangatan, ketentraman dan kebahagiaan suami-istri di dalam keluarga.

Dengan landasan kasih sayang, komunikasi dan interaksi yang dibangun oleh ayah dan bunda akan lebih hangat, lancar, dan optimal. Lain halnya bila komunikasi suami dan istri dibangun dengan mengedepankan ego. Bisa justru memperuncing perbedaan antara suami dan istri.

Sebagaimana dijelaskan di dalam Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 187:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ
Artinya:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”

Makna dari perumpamaan pakaian di atas, yakni pasangan suami istri harus saling melindungi, saling melengkapi, saling menutupi, dan saling mendukung satu sama lain. Sehingga proses mendidik anak dapat berlangsung dengan baik.

Baik ayah dan bunda harus punya peran yang aktif dalam mendidik anaknya. Ummu Khoir – yang juga merupakan Pendiri Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah- menganalogikan peran ayah dan Bunda seperti peran seorang direktur dan manajer dalam sebuah perusahaan.

Kedudukan Ayah dalam Islam sebagai kepala keluarga menjadi penanggung jawab bagi keluarga yang menetapkan visi serta mengarahkan tujuan, menyediakan sumber daya, mengambil segala resiko yang dihadapi oleh keluarga. Adapun Bunda memiliki peran terbaik yang lebih teknis, untuk memastikan visi-visi dan tujuan tadi, agar bisa diwujudkan dalam langkah-langkah konkrit.

Tanggung jawab utama seorang ayah sebagai kepala keluarga, kata Ummu Khoir, adalah menjaga agar seluruh anggota keluarga terhindar dari siksa neraka, dengan mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah. Sebagaimana diabadikan di Al Quran Surat At Tahrim ayat 6.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim Ayat 6)

Selain itu, orang tua juga diperintahkan untuk mengajarkan anak untuk mengantisipasi kondisi yang mungkin dihadapi di masa depan. Yakni kondisi di mana ketika kedua orang tua sudah semakin lemah, bahkan ketika orang tua wafat meninggalkan anak-anak mereka di dunia.

Anak harus sudah ditanamkan untuk melaksanakan birrul walidain, yakni bagaimana berbuat baik dan memuliakan orang tua, saat mereka telah semakin lemah. Bagaimana anak harus ikhlas dalam mengurusi orang tua yang sudah mengalami berbagai keterbatasan akibat menurunnya kesehatan.

Lebih dari itu, Allah juga menyuruh orang tua untuk mempersiapkan kebutuhan materi bagi anak-anak mereka sepeninggal mereka. Jangan sampai anak-anak yang ditinggalkan menjadi terlantar ketika orang tua wafat. Sebagaimana tertulis di dalam Al Quran Surat An Nisa.

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisa ayat 9)

Dalam hal ini, tentu saja orang tua harus menyiapkan semaksimal mungkin agar anak-anak mereka tak hanya memiliki ketahanan dari sisi materi semata, melainkan juga memiliki kekuatan iman. Karena, apa gunanya meninggalkan anak bergelimang harta, bila mereka ternyata miskin iman?

Rambu-rambu Islam itu, diharapkan dapat mengantarkan keluarga mu’min untuk mencapai kebahagiaan. Yakni, bahagia bersama di dunia dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bahagia bersama di dalam jannah-Nya saat memetik buah amal terbaik mereka di dunia.

Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin bahwa di akhirat kelak, orang beriman bisa saling memintakan syafa’at kepada Allah bagi keluarga mereka. Orang tua mu’min bisa menarik anak-cucu mereka ke dalam surga. Begitu juga sebaliknya, anak-anak yang mu’min juga dapat menarik orang tua mereka dari kerasnya siksa neraka.

Seperti yang diabadikan dalam Al Quran Surat At Thur:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (At Thur : 21)

Ustadzah Ummu Khair menjelaskan, ketika keluarga orang beriman saling dihubungkan dan dikumpulkan bersama anak-cucu mereka di dalam surga, itu merupakan kebahagiaan dan rahmat Allah yang sangat tak ternilai harganya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberi kenikmatan tersebut. Aamiin yaa Mujibas Saa’iliin.

Galeri kegiatan Parenting Online Nasional Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah: 

# Parenting Islam

# STP Khoiru Ummah Bandung

# Sekolah Tahfizh Terbaik

# Sekolah Tahfizh Unggulan

# Sekolah Islam Terbaik

# Sekolah Tahfizh Bandung

# Khoiru Ummah Bandung

# Sekolah Tahfizh Al Quran Bandung