Hafidz semangat belajar di tengah Corona - STP SD Khoiru Ummah sekolah tahfidz unggulan sekolah islam tahfizh terbaik bagus penghafal Al Quran di Bandung

Bagaimana Menyikapi Pandemi Covid-19

Saat ini wabah Corona Covid-19 telah menjadi objek perbincangan di manapun. Baik di media sosial, televisi, perbincangan antar teman, saudara, dan lain sebagainya. Kebijakan yang diambil pemerintah membuat kita semua melaksanakan aktivitas di dalam rumah atau yg kita kenal dengan sebutan “Stay at Home”, baik bersekolah, bekerja, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dari uraian di atas, kita bisa menjadikan Covid-19 sebagai objek irtifa’ul fikir (kenaikan taraf berpikir)

Kita mulai dengan mendefinisikan:
– Apa itu Covid-19?
– Mengapa kita harus dirumahkan?
– Apa kebijakkan-kebijakan yang diambil?
– dst

Untuk menyikapinya, kita dapat menggunakan 4 model tahapan dalam berpikir:

1. Pembentukan Pola Berpikir
Pada tahapan ini, kita harus bisa membaca realitas untuk kemudian mengaitkan realitas itu dengan dalil yang tepat.

Realitas fakta Covid-19 (virus corona)
Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian.

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

Untuk menjaga diri dan orang lain agar tidak terserang virus ini maka diwajibkanlah penggunaan masker, tidak bersentuhan, jaga jarak, isolasi wilayah dan sebagainya. Hal ini menghadirkan kesulitan bagi seluruh warga. Semua harus tinggal di rumah kecuali yang diijinkan untuk beraktifitas di luar.

Saat kesulitan akibat wabah terjadi, sebagai seorang muslim, kita melihat wabah Covid-19 dari sudut pandang bahwa: ini adalah qadha’ (sebuah keputusan/ketetapan) dari Allah. Karena, tidak ada satu peristiwa yang bisa terjadi tanpa izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalil

Lalu bagaimana kita mengaitkan peristiwa ini dengan dalil? Dari sini, kita harus menyikapi kejadian/ peristiwa/ musibah/ ujian dengan dalil yang telah ditetapkan Allah pada Al Qur’an Surat ath Thagabun 11-13
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (11) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (12) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (13)

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakal kepada Allah saja.

Wabah bisa menimpa siapa pun termasuk orang yang beriman. Dan bagi orang beriman saat tertimpa musibah maka yang dilakukannya adalah bersabar dan memohon pertolongan dengan berdoa dan shalat.
Seperti yang Allah firmankan dalam surat Al Baqarah ayat 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Artinya:

“Jadikanlah Sabar dan Shalat sebagai penolongmu.”

Jadi, sebagaimana ayat di atas, dalam menghadapi ujian atau musibah, kita diminta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dengan Sabar dan Sholat.

Adapun kesabaran itu ada 3 (tiga) tingkatan, yakni:

  • Tidak Mengeluh (tingkatan sabar yang paling rendah)
  • Menerima (tingkatan sabar yang kedua), dan
  • Bahagia/ tidak ada keluhan (tingkatan sabar yang paling tinggi)

Tapi, bagaimana Islam mengajarkan agar kita bisa bahagia dalam menyikapi musibah? Ternyata bisa saja. Contohnya dalam keseharian, ketika seseorang sedang melaksanakan ujian sekolah. Menjelang ujian, tentu saja banyak yang akan dilalui oleh seorang siswa, seperti lelah karena sibuk belajar, was-was bila nanti hasil ujian buruk, dan sebagainya.

Namun, setelah semua dilalui, siswa akan menerima hasil terbaik dari yang diupayakannya, yakni naik kelas. Nah, saat siswa naik kelas itulah, kemudian Allah menggantikan segala jerih payah siswa dengan kebahagiaan. Artinya, kebahagiaan bisa muncul, saat menghadapi ujian dengan menghadirkan rasa setelah proses terjadi. Akan ada kemudahan dan kenikmatan yang diperoleh, dengan catatan menjalankan seluruh prosesnya dengan baik.

Demikian juga menjalani kehidupan di tengah wabah, bahwa kondisi ini akan mengantarkan kepada kondisi yang lebih baik jika menjalani proses dengan baik. Bersabar, berdoa, taat, tawakal maka akan membuat peningkatan kualitas diri kita dalam kesabaran, doa, ketaatan dan ketawakalan.

Jadi, rasa bahagia muncul karena kita tidak hanya melihat pada saat ujian sedang dihadapi saja, melainkan kita juga melihat jauh kedepan yaitu ada apa di balik ujian/ peristiwa yang terjadi.

2. Berpikir Benar
Tahapan selanjutnya adalah tahapan berpikir benar. Pola berpikir ini merupakan aktivitas lanjutan dalam menganalisa/ mengevaluasi permasalahan. Yakni berpikir sesuai realitas dan berdasarkan dalil.

Dalam hal ini, kita memandang wabah Covid-19 sebagaimana yang Allah nyatakan dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 216:

كتب عليكم القتال وهو كره لكم وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون

Artinya :

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Realitas yang terjadi dengan adanya kebijakkan ‘stay at home‘ ini, semua menjadi serba susah, melelahkan, membosankan, dan lain sebagainya. Suatu hal yang tidak kita sukai. Namun segala sesuatu adalah qadha’ dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saat ini kita belum mengetahui hikmah apa di balik ini semua.

Dan, apa-apa yang tidak kita sukai, belum tentu merupakan hal yang buruk untuk kita. Begitu pula sebaliknya, apa-apa yang kita suka belum tentu baik untuk kita.

3. Berpikir Serius (Berpikir Solutif)
Tahapan berpikir selanjutnya adalah berpikir serius/ solutif. Pada tahapan ini kita akan mencoba mencari solusi atau jalan keluar apa yang bisa kita upayakan saat dihadapkan pada ujian/ cobaan. Yaitu, senantiasa mencari sisi positif dari permasalahan. Mencari sesuatu yang sifatnya ada amal sholeh sebagai solusi.

Lalu, bagaimana caranya? Yakni dimulai dengan berpikir tentang ‘Tujuan & Target’. Kita harus mencoba mengingat kembali tujuan utama dan target besar kita

Dalam hal mendidik anak, tujuan utama kita adalah: menjadikan anak-anak sebagai ‘abid (ahli ibadah) yang sholeh/ sholehah, mencetak anak-anak kita menjadi generasi Islam terbaik dan memahamkan anak-anak kita bahwa kampung halaman mereka adalah surga. Adapun target besarnya: membantu anak-anak agar memiliki bekal/ peta untuk sampai ke kampung halaman dengan selamat.

Setelah mengetahui tujuan dan target, kita bisa memikirkan cara/ uslub untuk mencapai target tersebut. Agar kita memiliki banyak uslub, maka kita harus terbiasa untuk memetakan masalah terlebih dahulu untuk mendapatkan jalan keluar.

Saat kita dan keluarga kita ingin keluar dari masalah kebosanan, maka sebagai orangtua perlu ingat tujuan dan target kita, yaitu mengantarkan anak dan diri serta keluarga ke kampung halaman kita di surga.
Hal yang bisa dilakukan antara lain:

1. Menyampaikan kepada anak-anak bahwa Allah sedang mengingatkan kita dengan musibah. Bahwa Allah Maha Kuasa, hanya Allah yang bisa menolong kita, maka mendekatlah kepada Allah

2. Penuhi aktivitas anak-anak dengan Al Qur’an, seperti menghafal (muroja’ah, tahfidz), menceritakan arti, menjelaskan ma’na ayat dan sebagainya. Sehingga anak-anak dan keluarga menjadi lebih dekat dengan Al Qur’an.

Maka setelah wabah ini semoga seluruh keluarga menjadi lebih sabar, lebih taat, lebih tawakal dan lebih tahu tentang pedoman menuju surga milik Allah yang dijanjikan kepada hamba-hambaNya yang ta’at.

Ketika kita terus-menerus menghadapi masalah, sampai akhirnya menemukan solusinya, maka artinya kita mendapat ilmu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala secara langsung dari masalah yang sedang kita hadapi.

Maka, Berbahagialah jika kita menemukan masalah dan kita bisa menyelesaikannya. Karena ada ilmu baru yang Allah berikan dengan selesainya masalah kita tersebut.

Tentunya, kita bisa melaksanakan semuanya dengan keberanian, ketekunan, kesabaran, keistiqomahan dan kesungguhan. Agar kita tidak dikalahkan dengan rasa lelah, bosan, marah, dan lain sebagainya.

4. Berpikir Politis / Ri’ayah
Tahapan berpikir selanjutnya adalah berpikir politis. Ketika kita sudah terlatih melaksanakan tiga model berpikir sebelumnya (pembentukan pola berpikir, berpikir benar dan berpikir serius), maka kita jadi punya banyak cara untuk tetap berada dalam ketaatan dan melaksanakan amal sholeh.

Sehingga, kita menjadi paham bagaimana cara mengendalikan, mengatur diri kita dan orang-orang sekitar yang menjadi tanggung jawab kita. Ini yang akan menjadikan kita mampu untuk mengayomi/mengatur anak-anak agar tetap senang dalam melaksanakan aktivitasnya walaupun di dalam rumah.

Untuk skala bangsa, maka setelah menjalankan 3 tahapan berpikir sebelumnya, maka akan lahir aturan-aturan antara lain:
1. Orang-orang yang diminta untuk stay at home tetap mampu untuk mencukupi kebutuhan dasarnya, disuplai kebutuhannya oleh negara. Dana yang digunakan adalah dari dana yang dimiliki umat berupa SDA yang melimpah
2. Melalui jaringan media yang dimiliki negara mensosialisasikan berbagai macam informasi yang bisa meningkatkan kesabaran, keta’atan, ketawakalan saat menghadapi musibah, dari tingkat anak-anak sampai dewasa.
3. Pengaturan tata cara ibadah yang sesuai dengan kondisi wabah.
4. Pengaturan yang seragam antara tempat peribadatan dan pasar. Bagaimana tempat beribadah bisa dibuka sebagaimana pasar atau tempat jual beli kebutuhan dasar.

* Disadur dari Resume Kajian BundaKU (Kajian Ibu-ibu orang tua siswa Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Bandung), dengan pembicara Ustadzah Hj Lia Fakhriyah, SP, pada 8 April 2020.

Galeri Foto Siswa Sekolah Tahfidz Plus Tingkat Dasar (STP SD) Khoiru Ummah Bandung Optimistis menyikapi Pandemi Covid-19:

# khoiru ummah # khoiru ummah bandung # stpku # sekolah tahfizh quran

# Sekolah Tahfizh Terbaik # tahfizh alquran # Sekolah Islam Terbaik # Sekolah Islam Terbaik  # tahfizh quran bandung #covid_19

# corona # Di Rumah Saja # belajar di rumah