Ilustrasi Al Qur'an - STP SD Khoiru Ummah sekolah tahfidz unggulan sekolah islam tahfizh terbaik bagus penghafal Al Quran di Bandung

Mukjizat Utama Nabi Muhammad, Kemukjizatan Bahasa Al-Qur’an

Sebagaimana nabi-nabi sebelumnya yang diberikan mukjizat yang memukau manusia di masa itu, Nabi Muhammad ﷺ juga diberikan mukjizat yang tak kalah hebatnya.

Nabi Musa diberikan tongkat yang mampu membelah lautan, Nabi Ibrahim kebal tubuhnya dibakar api, dan Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati. Maka Rasulullaah ﷺ mampu membelah bulan, memancarkan air dari sela-sela tangannya, memberikan makanan untuk ratusan orang dari makanan yang sedikit, juga mampu melakukan perjalanan ribuan kilometer bahkan menembus langit hanya dalam semalam.

Namun, tak hanya itu, Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi Umat Islam, juga diberikan mukjizat terbaik dan paling utama berupa kitab suci Al-Qur’an. Mukjizat utama ini bahkan bisa dirasakan dan disaksikan oleh lebih banyak orang, bahkan oleh generasi-generasi yang hidup jauh melampaui masa hidup Rasulullah ﷺ .

Al Qur’an sendiri saat itu turun secara bertahap dan tak dalam bentuk sebuah kitab/ buku yang sudah jadi. Melainkan hanya disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ secara verbal dan dihafalkan oleh para sahabatnya. Pencatatan Al-Qur’an memang dilakukan juga, namun menggunakan media yang beragam dan terpisah, seperti pada pelepah kurma, daun lontar, lempengan batu, potongan tulang binatang, dan kulit kayu/ daun.

Mukjizat utama dari Al-Qur’an terletak pada kemukjizatan bahasanya (Al-I’jaz Al-Bayaniy). Bahasa Al-Qur’an adalah bahasa yang efektif, mengena, indah, serasi diksinya dan susunannya. Pada beberapa ayat di Al-Qur’an, Allah menantang seluruh penduduk bumi, baik dari kalangan jin maupun manusia, untuk membuat yang serupa dari Ayat Al-Qur’an.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (Al Baqarah: 23)

Di antara orang yang mencoba untuk membuat tandingan bagi surat Al-Qur’an adalah nabi palsu sepeninggal Rasulullah ﷺ , Musailamah Al-Kadzdzab. Namun, alih-alih membuat tandingan Al-Qur’an yang bermutu, syair karangan Musailamah justru membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi tertawa karena tak memiliki arti dan makna penting. Misalnya saja surat Al Fiil (gajah) versi Musailamah berikut ini.

“Al-fiilu, maa al-fiil, wa maa adraaka maa al-fiil; al-fiilu lahu dzanabun wa tsiilun wa khurthuumun thawiil”

Artinya: Gajah, apakah itu gajah, tahukah kamu apa itu gajah; gajah mempunyai ekor yang kecil dan belalai yang panjang.

Adapun Al-Qur’an memiliki berbagai keindahan sekaligus makna mendalam yang menggetarkan. Tak heran bila kemudian banyak dari sahabat masuk Islam setelah mendengar atau membaca Al Qur’an. Misalnya saja, Umar bin Khaththab.

Umar yang terkenal keras dan temperamental, mampu ditaklukan hatinya setelah membaca ayat Al Qur’an Surat Thoha ayat 14:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Membaca ayat itu, Umar yang semula hendak membunuh Rasulullah dan baru saja memukul adiknya Fathimah, justru jadi merasa takjub. “Alangkah indah dan mulianya kalam ini,” kata Umar spontan. Sekonyong-konyong Umar meminta diantarkan kepada Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan kalimat syahadat.

Tak hanya sahabat dari kalangan biasa yang terpukau dengan keindahan dan keunggulan bahasa serta susunan ayat Al-Qur’an. Bahkan beberapa penyair pun masuk Islam setelah mendengar keindahan bahasa dari kitab suci umat Islam itu. Di antaranya adalah Thufail bin Amr Ad Dausy dan Suwaid bin Shamit.

Selain Thufail dan Suwaid, kakak beradik penyair terkenal Buhair dan Ka’ab bin Zuhair juga tercatat sebagai penyair musyrik yang kemudian masuk Islam.

Tak hanya diakui para sahabat yang masuk Islam. Ketakjuban terhadap kemukjizatan bahasa Al-Qur’an, baik langsung maupun tidak, diakui pula oleh musuh-musuh Islam kala itu.

Saat Utbah bin Rabiah sebagai wakil musyrikin Quraisy menawarkan kepemimpinan, jabatan, harta, atau wanita kepada Rasulullah ﷺ , ia justru kemudian tercenung tak mampu berkata-kata karena kekagumannya terhadap jawaban wahyu dari Rasulullah ﷺ yakni Al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 1-5.

حٰمۤ ۚ {1} تَنْزِيْلٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۚ {2} كِتٰبٌ فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَۙ {3} بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۚ فَاَعْرَضَ اَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَ {4} وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ {5}5

Artinya: Ha Mim (1) (Al-Qur’an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (2) Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (3) yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan (4) Dan mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami) (5)

Pada kesempatan lain, para petinggi kaum musyrik Quraisy yang menentang keras dakwah Rasulullah ﷺ ; Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Akhnas bin Syariq, saling berpapasan satu sama lain, saat mencuri dengar lantunan Al-Qur’an di saat Rasulullah melaksanakan shalat malam.

Mereka saling bertanya apa yang sedang mereka lakukan? Sehingga merekapun saling berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Tapi masing-masing di antara mereka tak dapat menahan rasa penasaran untuk kembali mendengarkan bacaan Al-Qur’an saat Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat malam, di malam berikutnya hingga pagi hari.

Mereka pun kembali saling bertemu dan memperbarui perjanjian mereka untuk tak lagi mencuri dengar dari Rasulullah. Kejadian ini terus berulang, hingga tiga kali. Ini membuktikan ada kekuatan misterius dari Al-Qur’an yang tak bisa mereka pungkiri. Hanya kesombongan saja yang menutupi mereka untuk mengakuinya.

Bahkan secara terus terang, Walid bin Mughirah, seorang penyair senior yang juga pembesar Quraisy yang kaya-raya, mengatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah syair buatan manusia dan memiliki bahasa yang tak tertandingi. Kepada Abu Jahal, ia berkata:

“Demi Allah, tak seorang pun di antara kalian yang lebih mengetahui syair-syair, prosa, dan puisi, sebagaimana yang kuketahui. Demi Allah, apa yang disampaikan oleh Muhammad tidak serupa dengan semua itu. Demi Allah, terdapat sesuatu yang sedap didengar, manis dirasakan, dari apa yang disampaikannya. Ia memporakporandakan apa yang terdapat di bawahnya. Sesungguhnya yang disampaikan Muhammad itu tinggi dan tidak teratasi.”

Dari fakta-fakta di atas, kemukjizatan bahasa Al-Qur’an memang tak terbantahkan. Allah telah menganugerahkan kepada umat Islam sebuah kitab yang mulia, terbaik dan tak terkalahkan. Hingga kini tak terhitung sudah berapa banyak manusia yang telah tercerahkan dan memeluk Islam karena membaca atau mendengarkan kalam mulia ini.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memudahkan kita untuk terus mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin.

*Photo Credit: Ahmed Polat @ Pexels

# STP Khoiru Ummah Bandung

# Sekolah Tahfizh Terbaik

# Sekolah Tahfizh Unggulan

# Sekolah Islam Terbaik

# Khoiru Ummah Bandung

# Tahfizh Al Quran Bandung

# Mukjizat Al Quran